<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Anandyah Arifin</title>
	<atom:link href="http://www.anandyah.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.anandyah.com</link>
	<description>Berbagi Ilmu dan Pengalaman</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Apr 2012 01:21:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>MENYIAPKAN ANAK MEMASUKI AKIL BALIGH</title>
		<link>http://www.anandyah.com/2012/04/menyiapkan-anak-memasuki-akil-baligh/</link>
		<comments>http://www.anandyah.com/2012/04/menyiapkan-anak-memasuki-akil-baligh/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Apr 2012 23:14:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.anandyah.com/?p=223</guid>
		<description><![CDATA[Kesiapan seorang anak menghadapi masa akil baligh sangat tergantung pada persiapan yang dilakukan oleh orang tua dalam masa-masa mumayyiz (kanak-kanak). Banyak orang tua yang tidak menyadari datangnya masa akil baligh pada anaknya. Tiba-tiba para orang tua sudah mendapati putranya berubah suaranya, berubah penampilannya ataupun mendapati putrinya tengah kebingungan ketika mendapatkan haid pertamanya. Bahkan karena ketakutannya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.anandyah.com/wp-content/uploads/2012/04/akil.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-224" title="akil" src="http://www.anandyah.com/wp-content/uploads/2012/04/akil-300x163.jpg" alt="" width="300" height="163" /></a>Kesiapan seorang anak menghadapi masa akil baligh sangat tergantung pada persiapan yang dilakukan oleh orang tua dalam masa-masa mumayyiz (kanak-kanak).</p>
<p>Banyak orang tua yang tidak menyadari datangnya masa akil baligh pada anaknya. Tiba-tiba para orang tua sudah mendapati putranya berubah suaranya, berubah penampilannya ataupun mendapati putrinya tengah kebingungan ketika mendapatkan haid pertamanya. Bahkan karena ketakutannya, beberapa anak putri menanyakan kejadian haid yang dialaminya kepada temannya. Akibatnya, sebagian mereka mengalami shock, tidak siap dan mengeluh setiap kali mereka mendapati siklus bulanannya datang.</p>
<p>Bagi orang tua, untuk mengetahui apakah anak sudah mengalami baligh, jauh lebih mudah pada anak putri daripada putra. Jarang anak putra yang mau menceritakan apa yang telah dialaminya pada orang tua, padahal sama halnya dengan anak putri, anak putra juga mengalami kebingungan. Anak merasa malu untuk berterus terang kepada orang tuanya, sementara orang tua juga kurang sensitif. Pada akhirnya, memang banyak orang tua tidak tahu kapan tepatnya anak putranya mengalami akil baligh, tanpa keterbukaan semuanya berjalan alami mengikuti waktu.</p>
<p>DATANG LEBIH AWAL<br />
Berbeda dengan 30 tahun yang silam, usia aqil baligh anak-anak pada masa sekarang datang lebih awal dari yang pada umumnya terjadi pada masa yang lalu. Sebagian anak putri pada usia 9 tahun sudah mengalami menstruasi, demikian pula halnya anak putra, terjadi percepatan yaitu usia 12 tahun.</p>
<p>Realitas yang memang sulit dihindari dijaman informasi tehnologi ini dimana segala macam informasi dapat diakses dengan mudah. Dengan berbagai gadget yang mudah diperoleh, bahkan tidak jarang orang tua yang justru memfasilitasinya, anak-anak sering terpapar hal-hal (pornografi/pornoaksi) yang tidak layak mereka konsumsi. Lebih buruk lagi apabila terdapat pengaruh dari teman bermain yang juga sering terpapar oleh hal serupa. Satu kali anak mendapati pornografi, rasa penasaran semakin meningkat dan dapat berkembang menjadi sebuah kebiasaan. Memang keingintahuan anak terhadap masalah seks sangat besar, tanpa ada informasi yang benar dan pendampingan orang tua, akan menimbulkan penyimpangan perilaku.</p>
<p>Situasi-situasi seperti inilah yang mempercepat kematangan seksual seorang anak, sehingga anak harus “diamankan” pola pikir dan mentalnya agar tidak terjebak pada perilaku yang salah dan buruk.</p>
<p>PR ORANG TUA<br />
Permasalahan akil baligh adalah merupakan hal yang urgen dan vital bagi seorang anak muslim karena mencakup pelajaran mengenai banyak hal, yaitu urusan dunia dan akhirat. Akil Baligh yang dalam bahasa arabnya berarti akalnya telah sampai memiliki makna bahwa anak yang sudah mengalami menstruasi/mimpi basah berarti ia sudah mencapai tahap taklif (tanggung jawab). Dengan demikian maka ia sudah bertanggung jawab untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Pada momen inilah anak harus mengetahui dan memahami bahwa semua yang dikerjakannya akan diperhitungkan sebagai amal baik atau amal buruk di yaumil hisab. Anak juga harus memahami bahwa ia tidak hanya bertanggung jawab pada dirinya sendiri namun juga memiliki kewajiban terhadap keluarga, tetangga, masyarakatnya dan dunia.</p>
<p>Oleh sebab besarnya perubahan yang akan dialami oleh anak akil baligh, maka orang tua harus mempersiapkan jauh sebelum anak memasuki usia tersebut. Dengan harapan anak memiliki kesiapan yang lebih matang dalam menunaikan kewajiban-kewajibannya. Semua persiapannya sangat efektif apabila dilaksanakan sejak usia dini, tentunya dengan porsi sesuai dengan kadar usianya.<br />
Misalnya dalam hal ibadah, apabila anak memiliki kebiasaan shalat wajib sejak TK maka anak tidak kesulitan untuk sholat pada saat akil baligh. Tidak hanya sekedar hafal bacaan dan gerakannya, anak akil baligh kelak akan lebih berhati-hati untuk menjaga kualitas sholatnya. Contoh lain, dalam hal fiqh kebersihan, anak yang dibiasakan mandi sendiri, membersihkan najis sendiri, membersihkan badan, rambut dan gigi akan dengan mudah untuk melakukan mandi janabah pada saat baligh. Termasuk juga anak akan senantiasa terjaga aurotnya apabila sejak kecil terbiasa untuk tidak membuka aurotnya disembarangan tempat.</p>
<p>Dengan demikian persiapan akil baligh merupakan hal yang mutlak dilakukan orang tua, agar anak segera dapat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang dialaminya. Adapun persiapan tersebut meliputi :<br />
1. Penanaman Iman<br />
Iman merupakan pendidikan awal yang harus diberikan orang tua. Karena iman merupakan modal dan benteng bagi anak dalam menghadapi ujian hidup. Termasuk didalamnya budaya-budaya tidak islami akan disaring oleh iman. Dengan iman, anak akan selektif dan memiliki pengendalian terhadap berbagai perilaku buruk. Ia menyadari bahwa perilaku buruknya akan merugikan dirinya sendiri dan diperhitungkan di yaumil akhir. Dengan nilai-nilai iman, anak memiliki sensor untuk membedakan mana yang baik dan yang buruk. Ia akan secara sadar merasakan adanya pengawasan Allah. Disinilah kemudian muncul tanggung jawabnya sebagai seorang individu yang matang.<br />
2. Penanaman Akhlaq<br />
Orang tua harus mengajarkan anak adab-adab sejak dini karena mengajarkan adab pada saat anak sudah baligh jauh lebih sulit karena pada tabiat anak pada masa ini sulit diatur. Dengan pengajaran adab, anak akan berperilaku yang seharusnya sesuai dengan yang diajarkan oleh agama. Bagaimana seharusnya perempuan berperilaku, berbicara, bagaimana pula seorang laki-laki mengendalikan nafsunya, menjaga mulut dan kelaminnya, bagaimana adab pergaulan laki-laki dan perempuan, anak sudah terlatih menjaga hubungannya dengan lawan jenis.<br />
3. Persiapan Aqliyah<br />
Dalam masa akil baligh, pertumbuhan fisik anak berkembang jauh lebih pesat ketimbang akal dan mentalnya. Sekalipun fisiknya sudah menyerupai orang dewasa, namun akal dan mentalnya masih seperti anak-anak. Maka akal dan mentalnya harus senantiasa diisi dan diasah agar anak terbiasa berpikir, memecahkan persoalan-persoalannya, mengambil keputusan terhadap urusannya, menentukan pilihan hidupnya sesuai dengan ajaran agama. Anak memiliki kepercayaan diri yang kuat dan tidak tergantung kepada orang tua ataupun orang lain. Dengan kemandiriannya anak akan memiliki kemampuan untuk mengatur dirinya sendiri.</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2012/04/menyiapkan-anak-memasuki-akil-baligh/" target="_blank"><img src="http://www.anandyah.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2012/04/menyiapkan-anak-memasuki-akil-baligh/" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anandyah.com/2012/04/menyiapkan-anak-memasuki-akil-baligh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tidak Sekedar Motivasi, Butuh DAYA JUANG</title>
		<link>http://www.anandyah.com/2012/04/tidak-sekedar-motivasi-butuh-daya-juang/</link>
		<comments>http://www.anandyah.com/2012/04/tidak-sekedar-motivasi-butuh-daya-juang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Apr 2012 23:05:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.anandyah.com/?p=220</guid>
		<description><![CDATA[Banyak hal yang berubah dengan kemajuan jaman. Berawal dari kehidupan yang serba sulit menjadi serba mudah. Berawal dari kepenatan menjadi kenyamanan. Berawal dari keterbatasan menjadi ketersediaan yang melimpah. Segalanya dapat diakses dengan cepat dan mudah. Perubahan peradaban ini menjadikan semuanya tampak sangat indah, menyenangkan dan memuaskan. Kita menyaksikan hampir disemua lini, perubahan demi perubahan terjadi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.anandyah.com/wp-content/uploads/2012/04/daya-juang.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-221" title="daya-juang" src="http://www.anandyah.com/wp-content/uploads/2012/04/daya-juang-300x271.jpg" alt="" width="300" height="271" /></a>Banyak hal yang berubah dengan kemajuan jaman. Berawal dari kehidupan yang serba sulit menjadi serba mudah. Berawal dari kepenatan menjadi kenyamanan. Berawal dari keterbatasan menjadi ketersediaan yang melimpah. Segalanya dapat diakses dengan cepat dan mudah. Perubahan peradaban ini menjadikan semuanya tampak sangat indah, menyenangkan dan memuaskan. Kita menyaksikan hampir disemua lini, perubahan demi perubahan terjadi.</p>
<p>Tidak terkecuali, berubahnya culture masyarakat yang mempengaruhi kebiasaan dalam pola pikir dan gaya hidupnya. Lebih khusus lagi, perubahan mental, terlihat sangat jelas pada generasi muda yang lahir di jaman digital seperti saat ini. Kehidupan serba ada, serba cepat, serba instan mendorong mereka menjadi pengagum dan penikmat fasilitas, yang berakibat tidak optimalnya fungsi otak dan mental.</p>
<p>Generasi muda menjadi sasaran empuk perkembangan jaman, mereka menjadi obyek tehnologi, bahkan tidak jarang menjadi budak tehnologi. Sehingga tidak mengherankan, bermunculan penyakit-penyakit mental seperti; malas berusaha, mudah putus asa, tidak bertanggung jawab, tidak disiplin, bangga dengan fasilitas mewah, tidak mampu menyelesaikan masalah, menyerah dengan keadaan dsb.</p>
<p>Akibatnya potensi intelektual yang mereka bawa sejak lahir menjadi mandul, IQ tinggi tidak menjamin mereka untuk dapat struggle dalam kehidupan. Mereka memiliki banyak teman, pandai bersosialisasi, tapi lari dari kenyataan ketika berhadapan dengan masalah. Narkoba, miras, bunuh diri menjadi solusi pilihan.</p>
<p>Untuk itu generasi muda harus meningkatkan imunitasnya sehingga memiliki kekebalan terhadap problem-problem kehidupan yang melingkupinya. Dengan pendidikan ketrampilan problem solving, maka mereka akan menjadi survive ditengah kompleksitas jaman.</p>
<p>Adversity Quotient = Daya Juang<br />
Dalam dunia psikologi kita mengenal istilah IQ, EQ, SQ. Selama beberapa tahun, ketiga kecerdasan ini menjadi primadona yang selalu diperbincangkan, dibahas dalam seminar dan pelatihan. Mengapa demikian, karena ketiga hal ini diyakini sebagai jaminan kunci kesuksesan setiap individu.</p>
<p>Namun, dalam perkembangannya ketiga kecerdasan tersebut dipandang tidak cukup untuk menjadikan individu sukses tanpa memiliki Adversity Quetiont (AQ). AQ adalah kecerdasan yang diperlukan oleh setiap individu untuk mengatasi masalah atau kesulitan agar berhasil dalam kehidupan ini.</p>
<p>Berdasarkan penelitian Stoltz, tidak semua orang yang otaknya encer (IQ diatas rata-rata) memiliki daya juang yang tinggi, demikian pula tidak ada jaminan orang yang friendly mampu menghadapi masalah-masalah yang menghadang. Setiap individu memiliki kemampuan mengatasi masalah yang berbeda-beda. Perumpamaannya seperti orang yang mendaki gunung. Stoltz membedakannya menjadi 3 tipe :<br />
1. Tipe Qiutters (mereka yang berhenti dan menyerah)<br />
Adalah orang yang bila sedang mendaki gunung, akan memilih berada ditempat yang paling bawah. Kemampuan mendakinya hanya cukup sampai di kaki gunung.<br />
Orang tipe ini biasamya berusaha menjauh dari permasalahan, rasa takut dan kuatir lebih kuat dari rasa keinginan bertindak (action). Saat melihat atau menghadapi kesulitan, ia akan memilih mundur, dan tidak berani menghadapi permasalahan.<br />
2. Tipe Campers (mereka yang berkemah)<br />
Adalah orang yang belum mencapai puncak gunung tapi sudah merasa puas dengan hasil yang telah dicapainya saat ini. Ia tak mau mendaki lebih tinggi karena risiko yang terlalu besar. Pendaki tipe ini pada umumnya lebih menyiapkan diri untuk jalan aman kembali turun dari pada memikirkan bagaimana strategi naik ke puncang gunung.<br />
Biasanya cepat puas atau selalu merasa cukup berada di posisi tengah. Cenderung mengabaikan kemungkinan, peluang atau kesempatan baru yang bisa didapat, bila melangkah lebih tinggi dan lebih jauh.<br />
3. Tipe Climbers ( mereka pendaki gunung sejati)<br />
Adalah anak yang mempunyai tujuan, punya impian, punya target atau sasaran, atau paling tidak sudah punya sesuatu yang ingin diwujudkan. Dan, untuk merealisasikan ide itu, mereka memiliki kemauan dan mampu mengusahakannya dengan ulet, tekun dan gigih.<br />
Pendaki tipe ini memiliki rasa ingin tahu atau rasa “Penasaran” yang besar. “Wah, pasti<br />
seru nih!” demikian kira-kira mindset dalam benak mereka. Mereka memiliki rasa percaya diri yang besar, keberanian menghadapi sesuatu yang baru serta disiplin yang tinggi. “Aku harus selesaikan apa yang telah aku mulai” demikian tekad dalam diri mereka.<br />
Dari ketiga tipe maka tipe climbers inilah yang tergolong memiliki AQ yang baik.</p>
<p>Tingkatkan Daya Juang<br />
Kecerdasan mengatasi masalah bukan sesuatu yang diperoleh dengan instan. Bukan juga bawaan sejak lahir melainkan sesuatu yang dapat dilatih, dibentuk atau diciptakan. Untuk menumbuhkannya diperlukan suatu proses yang tidak singkat, dengan melalui pengajaran dan latihan yang melibatkan segenap potensi yang kita miliki. Dengan optimalisasi potensi belajarnya (otak dan alat indra) serta stimulasi yang tepat terhadap gaya belajarnya (Visual, Auditori, Kinestetik) , anak akan memiliki pengalaman-pengalaman yang berharga dalam hidupnya. Banyaknya pengalaman itulah yang akan menjadikan anak memiliki ketangguhan dalam mengatasi masalah.</p>
<p>Beberapa cara yang dapat dipakai untuk menumbuhkan daya juang :<br />
Dongeng<br />
Mendongeng adalah metode yang luar biasa dampaknya, karena isi dongeng akan tersimpan dengan baik dalam otak anak, apalagi ketika disampaikan dengan semangat dan ekspresif. Dalam dongeng tersimpan pesan akhlak, nilai-nilai moral dan pesan mental pada setiap tokohnya.<br />
Bermain lompat tali<br />
Umumnya dimainkan oleh anak-anak perempuan. Selain melatih kelenturan fisik, juga melatih diri untuk tetap TENANG saat menghapi tekanan. Karena biasanya pihak yang mendapat giliran memutar karet akan mempercepat putarannya, jika pihak pelompat karet bisa terus mengatasi tingkat tantangan yang diberikan. Misal: batas dengkul, batas paha, batas pinggang, batas pundak, batas kepala dan batas kepala plus satu jengkal tangan atau disebut batas “MERDEKA!!!”<br />
Permainan Kelereng<br />
Dengan beberapa kombinasi tantangan atau tingkat kesulitan tertentu, membuat anak-anak harus meningkatkan kemampuannya, kalau tidak akan kalah. Nah, saat kalahpun ini adalah latihan yang baik untuk anak-anak dalam mengatasi rasa kalah. Memilih menyerah atau malahan makin giat berlatih?<br />
Olah Raga<br />
Adalah pilihan terbaik untuk melatih ketangguhan anak-anak, karena ada saat-saat mereka harus melawan rasa sakit dan ini sangat penting serta menjadi kekuatan mereka di masa depan, sehingga mereka akan memiliki toleransi yang tinggi terhadap rasa sakit yang mungkin saja semakin meningkat dengan tantangan yang lebih berat.</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2012/04/tidak-sekedar-motivasi-butuh-daya-juang/" target="_blank"><img src="http://www.anandyah.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2012/04/tidak-sekedar-motivasi-butuh-daya-juang/" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anandyah.com/2012/04/tidak-sekedar-motivasi-butuh-daya-juang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>JANGAN REMEHKAN SIBLING RIVALRY</title>
		<link>http://www.anandyah.com/2012/03/jangan-remehkan-sibling-rivalry/</link>
		<comments>http://www.anandyah.com/2012/03/jangan-remehkan-sibling-rivalry/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Mar 2012 22:58:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.anandyah.com/?p=217</guid>
		<description><![CDATA[Ketuntasan seorang anak menghadapi sibling rivalry memberikan kontribusi yang cukup besar dalam menumbuhkan kecakapan menyelesaikan konflik pada saat dewasa kelak. Dalam setiap keluarga sering kita jumpai adanya pertengkaran antar anggota keluarga, khususnya anak yang satu dengan yang lain, kakak dengan adik. Mulai dari caci maki, beradu mulut sampai beradu otot. Bak tom and jerry, suasana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.anandyah.com/wp-content/uploads/2012/04/fighting-kids.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-218" title="fighting-kids" src="http://www.anandyah.com/wp-content/uploads/2012/04/fighting-kids-300x198.jpg" alt="" width="300" height="198" /></a>Ketuntasan seorang anak menghadapi sibling rivalry memberikan kontribusi yang cukup besar dalam menumbuhkan kecakapan menyelesaikan konflik pada saat dewasa kelak.</p>
<p>Dalam setiap keluarga sering kita jumpai adanya pertengkaran antar anggota keluarga, khususnya anak yang satu dengan yang lain, kakak dengan adik. Mulai dari caci maki, beradu mulut sampai beradu otot. Bak tom and jerry, suasana didalam rumah hampir dipastikan selalu gaduh.</p>
<p>Hal-hal sepele dapat berubah menjadi masalah yang sangat besar. Hanya sekedar mainan dipinjam adik, sang kakak marah. Atau kakak selalu meminta apapun didahulukan dipenuhi dan bagian yang banyak. Apa yang dimiliki adik, kakak juga harus punya. Keadaan demikian wajar terjadi dalam kehidupan rumah tangga. Namun dapat menjadi kontraproduktif apabila berlangsung secara terus menerus setiap hari tanpa penyelesaian. Bahkan dapat berlanjut menjadi permusuhan sampai kelak dewasa.</p>
<p>Mengenal Sibling Rivalry<br />
Dalam istilah psikologi kondisi diatas disebut sebagai sibling rivalry yaitu persaingan antara saudara kandung, bisa dalam bentuk cemburu, iri, pertengkaran hingga perkelahian yang menimbulkan ketegangan. Terjadi pada keluarga dengan jumlah anak lebih dari satu. Bisa dialami oleh individu pada kelompok umur berapapun, mulai dari balita, kanak-kanak, remaja bahkan sampai dewasa.<br />
Sibling rivalry merupakan hal penting yang harus mendapatkan perhatian orang tua karena penanganan yang tidak tepat dapat menimbulkan masalah yang berkelanjutan. Karena biasanya kecenderungan sibling rivalry yang terjadi pada kelompok umur berikutnya lebih disebabkan karena ketidaktuntasan dalam menyelesaikan sibling rivalry pada masa-masa sebelumnya. Namun, jika masih berada dalam taraf yang wajar, maka sibling rivalry masih memiliki efek yang positif. Anak dapat berlatih mengatasi masalah, mengontrol emosi, belajar etika meminta maaf, serta bisa lebih jernih dalam menilai serta mencari solusi masalah.</p>
<p>Munculnya sibling rivalry berawal dari masalah egosentrisme, dimana setiap anak mengalami fase perkembangan tersebut. Konsep egosentris adalah konsep dimana anak sedang mengembangkan konsep ke-aku-an, segalanya berpusat pada dirinya dan miliknya. Termasuk diantaranya mengakui “Ayah dan Ibu hanya untukku”. Egosentris merupakan bagian dari perkembangan dan bukan sesuatu yang negatif tapi dapat memberikan peluang kearah yang negatif apabila tidak tepat penanganan.</p>
<p>Dalam konteks sibling rivalry, konsep egosentris menjadi penting karena berhubungan dengan kemampuan anak dalam memandang dirinya. Apabila si anak tidak mengukuhkan dirinya melalui egosentris maka dirinya tidak akan mampu menanggapi perbedaan yang dimiliki oleh setiap orang dengan berbagai karakteristik, tidak memiliki kepercayaan diri, lemah dalam beradaptasi, tidak memahami nilai-nilai toleransi dll.</p>
<p>Sibling rivalry juga sangat ditentukan oleh perkembangan anak ketika menghadapi konflik alias manajemen konflik. Pada setiap tahapan umur (bahkan ketika dewasa) manajemen konflik dan konsep egosentris mengalami perubahan. Setiap masa perkembangan anak akan mempunyai cara pandang berbeda yang berpengaruh pada cara mereka menyelesaikan konflik.<br />
Pada saat perkembangan manajemen konflik mampu diarahkan pada sisi baik maka anak akan mampu membangun jalur penghubung antara bagian otak emosional dan bagian otak logika. Dengan demikian ketika menghadapi konflik, anak akan berupaya untuk mencari solusi dibandingkan meluapkan emosi secara berlebihan.</p>
<p>Mengapa terjadi?<br />
Banyak hal yang melatarbelakangi terjadinya sibling rivalry, antara lain :<br />
• Jarak usia. Jarak usia antara kakak dan adik yang terlalu dekat dapat menyebabkan terjadinya sibling rivalry, karena dengan jarak usia yang seperti ini, mereka biasanya sama-sama menuntut perhatian yang sama dari orang tuanya. Namun, bukan berarti jarak usia yang jauh tidak bisa berpotensi muculnya sibling rivalry.<br />
• Temperamen individual. Setiap orang memiliki temperamen yang berbeda-beda, bahkan saudara kembar sekalipun. Perbedaan temperamen mencakup mood, watak, kemampuan beradaptasi dan keunikan pribadi. Perbedaan inilah yang kadang memicu pertengkaran antara kakak dan adik.<br />
• Modelling dari orang tua. Anak merupakan cerminan dari orang tuanya. Anak biasanya meniru segala hal dari orang tua, sehingga jika orang tua menyelesaikan masalah dengan emosional bahkan perilaku agresif, maka anak pun akan bertindak demikian.<br />
• Pembagian peran dalam rumah dan aturan dari orang tua. Pembagian tugas rumah yang tidak adil dapat memicu pertengkaran antar saudara. Selain itu, jika orang tua tidak menerapkan aturan-aturan dalam rumah, maka akan menyebabkan kurangnya disiplin pada anak-anak.<br />
• Stres. Stres pada kehidupan salah seorang anak, dapat memicu terjadinya konflik. Dengan kondisi yang merasa bosan, lelah, ataupun bete’ biasanya anak lebih sering memulai pertengkaran atau perkelahian.</p>
<p>Mengatasi Sibling Rivalry<br />
Orang tua memiliki peran besar dalam menangani permasalahan sibling rivalry. Cara orang tua menyelesaikan pertengkaran dalam keluarga menjadi tolok ukur anak dalam menyelesaikan permasalahannya. Berikut yang hendaknya perlu diperhatikan orang tua;<br />
Pertama, sikap baik dan bijaksana bagi orang tua adalah bersikap netral dan objektif, artinya orang tua tidak memihak salah satu anaknya dan tidak menyalahkan perilaku anaknya yang lain. Masing-masing anak yang berkonflik diajak berunding oleh orang tua untuk berbicara menyampaikan perasaan, pendapat dan sikapnya, serta apa yang mereka harapkan.</p>
<p>Kedua, setiap terjadi konflik, orang tua membantu anak untuk menyelesaikannya segera mungkin. Yang ditekankan dalam hal ini adalah mencari solusi dari masalah, bukan mencari siapa yang salah. Semakin mereka dewasa, biarkan mereka menyelesaikan konflik mereka namun orang tua tetap memantau cara mereka menyelesaikan konflik tersebut.</p>
<p>Ketiga, orang tua berusaha untuk menjadi penengah yang baik dan berusaha untuk menyadarkan mereka bahwa pertengkaran bukanlah jalan keluar untuk menyelesaikan konflik. Serta memberitahu mereka bahwa konflik yang tidak terselesaikan hanya akan menyebabkan kehancuran dalam keluarga.</p>
<p>Terakhir, masing-masing anak diajak untuk menyadari kesalahannya dan meminta maaf, atau yang lainnya diajak untuk memaafkan kesalahannya tersebut, sehingga akan tercipta kedamaian, kerukunan dan keharmonisan antara anak yang satu dengan anak yang lainnya.</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2012/03/jangan-remehkan-sibling-rivalry/" target="_blank"><img src="http://www.anandyah.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2012/03/jangan-remehkan-sibling-rivalry/" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anandyah.com/2012/03/jangan-remehkan-sibling-rivalry/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PERTARUNGAN MASA “PUBER KEDUA”</title>
		<link>http://www.anandyah.com/2012/02/pertarungan-masa-puber-kedua/</link>
		<comments>http://www.anandyah.com/2012/02/pertarungan-masa-puber-kedua/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 22:53:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial-Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.anandyah.com/?p=213</guid>
		<description><![CDATA[Mempertahankan usia pernikahan merupakan sebuah tantangan sekaligus perjuangan. Dibutuhkan seni dalam membina hubungan suami istri, khususnya dalam masalah komunikasi. Dalam sejarah hidup bahtera rumah tangga, usia 40 tahunan dipandang sebagai usia kritis sebuah pernikahan, yang dapat berujung pada goyahnya sebuah ikatan suci. Sebagian besar beranggapan karena usia 40 tahunan merupakan masa “Puber kedua”, sehingga peluang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.anandyah.com/wp-content/uploads/2012/04/puber-ke-2.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-214" title="puber ke-2" src="http://www.anandyah.com/wp-content/uploads/2012/04/puber-ke-2.jpeg" alt="" width="262" height="192" /></a>Mempertahankan usia pernikahan merupakan sebuah tantangan sekaligus perjuangan. Dibutuhkan seni dalam membina hubungan suami istri, khususnya dalam masalah komunikasi. Dalam sejarah hidup bahtera rumah tangga, usia 40 tahunan dipandang sebagai usia kritis sebuah pernikahan, yang dapat berujung pada goyahnya sebuah ikatan suci. Sebagian besar beranggapan karena usia 40 tahunan merupakan masa “Puber kedua”, sehingga peluang setiap pasangan untuk jatuh cinta kepada yang lain sangat besar. Benarkah demikian?</p>
<p>LIKA LIKU “PUBER KEDUA?”<br />
Pubertas dalam ilmu psikologi memiliki arti masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa remaja. Masa peralihan ini ditandai dengan matangnya organ reproduksi dan berkembangnya ketertarikan kepada masalah seksual. Pada masa ini remaja mulai memiliki perasaan suka, cinta, sayang terhadap lawan jenisnya. Seiring dengan perkembangan perasaannya tersebut, remaja mulai memperhatikan penampilannya sedemikian rupa untuk menarik perhatian lawan jenisnya.</p>
<p>Ketertarikannya pada lawan jenis biasanya ditunjukkan dengan perilaku-perilaku tertentu, seperti ; mengirimkan kata-kata romantis melalui sms, telpon tidak mengenal waktu, chatting, mengajak kencan berdua, dll.<br />
“Puber kedua” merupakan analogi dari perilaku para suami/istri yang menyerupai perilaku remaja yang sedang jatuh cinta. Adanya ketertarikan pada wanita/pria lain, biasanya yg lebih muda, saling merayu, memuji, makan malam bersama, melihat bioskop bersama dsb. Hal ini bukan karena semakin matangnya organ reproduksi sebagaimana pubertas remaja, namun lebih pada pembuktian diri bahwa mereka masih produktif dalam urusan percintaan.</p>
<p>Kondisi yang sebenarnya justru pada usia 40 tahunan, kemampuan reproduksi sudah mulai menurun, kekuatan fisik sudah mulai melemah. Namun karena pada usia tersebut justru sebagian besar pria/wanita mulai hidup mapan secara materi, karier menanjak, matang pola pikirnya, maka suami/istri memiliki dorongan untuk bereksperimen dengan pasangan lain.</p>
<p>Rentang usia 40 tahunan merupakan masa dimana seorang suami/istri memiliki kebutuhan agar eksistensi dirinya lebih diakui, dihargai dan diperhatikan. Sebab perhatian yang lebih dari pasangannya, membuat sesuatu yang menjadi kelemahan-kelemahan bukan lagi merupakan kekurangan dan apa yang menjadi kelebihan-kelebihan (karier, jabatan dll) semakin meningkat maksimal.<br />
Ketika kebutuhan-kebutuhan suami/istri pada masa “puber kedua” tersebut tidak terfasilitasi oleh pasangannya maka akan membuka peluang untuk para suami/istri mendapatkan fasilitas di luar rumah dengan pasangan lain. Ini merupakan awal terjadinya perceraian.<br />
So, setiap suami/istri hendaknya menyadari dan memiliki antisipasi dalam menghadapi masa tersebut, sehingga “puber kedua” hanya dilewati bersama dengan pasangannya.</p>
<p>KOMITMEN MEMPERBAIKI DIRI<br />
Semakin lama berumahtangga, problematika yang terjadi tentunya semakin kompleks, kesibukan pekerjaan yang semakin tinggi, acara-acara diluar rumah semakin padat, waktu bersama keluarga yang semakin berkurang, menyebabkan hak-hak suami/istri, keluarga tereliminasi, tidak adanya perhatian. Keadaan demikian berpotensi menimbulkan kejenuhan, kebosanan, ketidakpuasan, kekakuan berkomunikasi, pertengkaran dll.</p>
<p>Perlu kita sadari, bahwa sebagai pasangan kita memiliki kekurangan, disatu sisi terkadang membuat suami/istri terdholimi oleh sikap/perbuatan kita. Perlu kita sadari pula bahwa kecantikan/ketampanan, kemolekan/kegagahan pasangan kita tidak akan abadi, memudar seiring bertambahnya usia.</p>
<p>Oleh sebab itu hendaknya setiap suami/istri memiliki komitmen untuk selalu mengevaluasi diri dan perjalanan rumah tangganya, memperbaiki diri, mengingat kembali MoU diawal pernikahan dan mengembalikan segala sesuatunya kepada aturan Allah. Dengan demikian masa-masa kritis pernikahan dapat dilalui dengan baik dan menjadikan hubungan yang semakin harmonis.</p>
<p>SETIA SAMPAI AKHIR HAYAT<br />
Menjaga kesetiaan berarti membangun komitmen untuk tetap memberikan dan memupuk rasa sayang dan cinta hanya pada pasangan. Menjauhi penyimpangan, seperti perselingkuhan adalah wujud dari kesetiaan kepada pasangan. Dengan menjaga kehormatan diri dan kepercayaan terhadap pasangan, kesetiaan akan semakin terjalian kuat dan terhindar dari perselingkuhan.</p>
<p>Kesetiaan juga ditunjukkan dengan perilaku tidak saling membiarkan pasangannya dalam keburukan. Apabila berbagai penyimpangan atau hal-hal yang tidak baik dibiarkan terjadi tanpa ada upaya pengingatan, merupakan pertanda memudarnya ikatan kesetiaan antara suami istri.<br />
Kesetiaan hendaknya harus senantiasa terjaga pada berbagai kondisi, baik dalam keadaan susah, senang, miskin, kaya, sakit, sehat, tua, muda dsb. Bernostalgia dengan tempat kencan pertama kali, melihat foto kenangan bersama, mengungkapkan rasa cinta secara verbal, menyatakan cinta dengan ungkapan non verbal (senyuman, belaian sayang, kemesraan hubungan, wajah ceria, intonasi kalimat yang lembut dan manja) akan semakin menguatkan perasaan cinta kepada pasangan kita.</p>
<p>Rumah tangga yang baik dibangun oleh pribadi-pribadi yang baik, yang senantiasa meningkatkan kemampuan dan kapasitas diri untuk menjadi pasangan suami/istri yang baik. Kesadaran untuk istiqomah memperbaiki kekurangan-kekurangan pribadi merupakan modal sukses untuk mencapai kebahagiaan berumah tangga.</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2012/02/pertarungan-masa-puber-kedua/" target="_blank"><img src="http://www.anandyah.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2012/02/pertarungan-masa-puber-kedua/" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anandyah.com/2012/02/pertarungan-masa-puber-kedua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BICARA SEKS, WHY NOT?</title>
		<link>http://www.anandyah.com/2012/01/bicara-seks-why-not/</link>
		<comments>http://www.anandyah.com/2012/01/bicara-seks-why-not/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jan 2012 22:51:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.anandyah.com/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[Anak-anak jaman sekarang mengalami pubertas lebih cepat dibandingkan jaman orang tuanya. Apabila pada jaman dulu anak perempuan mendapatkan menstruasinya pada usia 15 tahun maka saat ini pada usia 10 tahun sudah banyak anak perempuan yang mengalami pubertas. Pada situasi yang sama, anak laki-laki pun juga mengalami percepatan pubertas. Pada usia 12 tahun sebagian besar sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anak-anak jaman sekarang mengalami pubertas lebih cepat dibandingkan jaman orang tuanya. Apabila pada jaman dulu anak perempuan mendapatkan menstruasinya pada usia 15 tahun maka saat ini pada usia 10 tahun sudah banyak anak perempuan yang mengalami pubertas. Pada situasi yang sama, anak laki-laki pun juga mengalami percepatan pubertas. Pada usia 12 tahun sebagian besar sudah mengalami mimpi basah. Cepatnya pubertas membuat anak-anak lebih awal memiliki ketertarikan kepada lawan jenisnya.</p>
<p>Banyak faktor yang mempengaruhi percepatan pubertas, diantaranya bertambahnya gizi yang dikonsumsi, sehingga mempercepat dan meningkatkan pertumbuhan hormon-hormon seksualitas. Faktor lingkungan, yaitu stimuli berupa sajian-sajian yang mengumbar kenikmatan cinta, pornografi, pornoaksi melalui tayangan-tayangan media televisi, film, sinetron, telenovela, internet, majalah dll. Hal tersebut mendorong anak-anak mengalami fantasi-fantasi seks sehingga mereka lebih cepat matang dari usianya.</p>
<p>Kondisi pubertas merupakan situasi rawan apabila tidak ada mekanisme penanganan yang tepat dari orang tua. Anak akan berada dalam posisi objek industri media yang tidak bertanggung jawab. Intensitas kedekatan dengan media “nakal”, membuat anak pada akhirnya terdorong untuk menjadi subjek dalam aktivitas seksual, yang dapat mengarah pada penyimpangan seksual yang bertentangan dengan hukum agama dan norma-norma masyarakat.</p>
<p>KERUSAKAN MORAL SEBABKAN KERUSAKAN OTAK<br />
Dalam Top TenReviws.com@2006 membeberkan data mengenai konsumen media pornografi/pornoaksi; Rata-rata usia anak pertama kali mengenal pornografi melalui Internet pada usia 11 tahun. Penggemar pornografi Internet terbesar adalah kelompok usia 12-17 tahun. 90 % dari kelompok usia 8-16 tahun mengakses situs porno di Internet pada saat mengerjakan PR Sekolah.</p>
<p>Bahkan sumber “Gerakan jangan bugil didepan kamera” menemukan 500+ video porno dengan 100% local content. Modus yang dipakai adalah “experimental youth” dimana para pelajar/mahasiswa (sebanyak 90%) membuat video porno (free sex) diri mereka sendiri. Penyakit seperti ini merata di Indonesia tidak hanya di kota besar melainkan sampai ke pelosok pedesaan. Dengan kerusakan moral seperti ini maka Indonesia tercatat kedalam 7 besar pengakses “sex” di internet. Na’udzubillahmindzalik.</p>
<p>Informasi mengenai seks memang menjadi primadona bagi remaja puber, bahkan anak yang masih berada pada sekolah dasar. Keingintahuan yang besar mendorong mereka untuk mencari dan menemukan pengetahuan tersebut melalui berbagai cara. Terjebaknya anak dengan sajian pornografi/pornoaksi membuat pikiran anak terpasung pada masalah seks yang semakin lama dapat mengakibatkan penurunan fungsi otak.</p>
<p>Dunia medis telah membuktikan adanya kerusakan pada bagian otak kortek prefrontal, yang menyebabkan terganggunya fungsi penataan emosi, memori, pengambilan keputusan dan intuisi, gangguan perilaku (agresif), kecemasan dan ketakutan tinggi.</p>
<p>KEALPAAN ORANG TUA<br />
Realitas ini hendaknya mendorong setiap orang tua untuk lebih peka dan lebih cepat merespon permasalahan ini. Banyak orang tua tidak siap ketika anak-anak sudah mulai terjangkiti “virus merah jambu”, bertanya mengenai seks. Bahkan orang tua cenderung tidak merespon atau menunjukkan ekspresi marah. Sehingga mereka lebih suka mencari informasi dari luar dan curhat kepada teman-temannya. Dampaknya anak memiliki persepsi tentang seks yang tidak seratus persen benar.</p>
<p>Maka menjadi penting bagi orang tua untuk melakukan perubahan paradigma, seks bukan sesuatu yang tabu untuk dibicarakan dengan anak. Apalagi dimana-mana media memberikan informasi mengenai seks secara lebih vulgar tanpa adanya filter. Oleh sebab itu sikap terbuka mutlak diperlukan kepada anak agar mereka mendapatkan informasi yang benar dan akurat.</p>
<p>Orang tua perlu menjelaskan perbedaan antara orang asing, teman, sahabat, kerabat, kenalan dan muhrim. Demikian juga orang tua perlu menjelaskan tentang makna sentuhan dan bagaimana menyikapinya, dampak pornografi bagi otak. Sehingga anak memiliki kekuatan untuk menjaga diri dan pergaulan.</p>
<p>KOMUNIKASI SEHAT<br />
Pendidikan seks memiliki makna yang luas, mencakup pendidikan mengenai identitas diri, konsep diri, keimanan, kebersihan, dan kesehatan. Kebenaran persepsi anak mengenai seks erat kaitannya dengan pola pendidikan, pengasuhan dan cara berkomunikasi orang tua. Jadi, mari kita lakukan perbaikan sebab kebanyakan kegagalan dalam komunikasi adalah karena orang tua kurang mengenal diri anak.</p>
<p>Agar anak merasa nyaman berkomunikasi, orang tua perlu memperhatikan hal berikut:<br />
1. Respect<br />
Adalah rasa saling menghargai. Setiap manusia memiliki kebutuhan untuk dihargai dan dianggap penting oleh orang lain. Jika orang tua menunjukkan sikap menghargai anak dalam setiap komunikasi, maka anak akan menghargai pula orang tuanya. Mereka akan memiliki keterbukaan dan kepercayaan, mudah menerima masukan, nasehat dari orang tuanya.<br />
2. Emphaty<br />
Empati adalah kemampuan kita untuk menempatkan diri pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Salah satu prasarat utama dalam memiliki sifat empati adalah kemampuan kita untuk mendengarkan atau mengerti terlebih dulu sebelum didengarkan atau dimengerti oleh orang lain. Rasa empati akan memampukan orang tua untuk menyampaikan pesan. Cara dan sikap empati juga akan memudahkan anak menerima pesan yang orang tua sampaikan.<br />
3. Audible<br />
Pesan yang kita sampaikan harus audible, artinya pesan dapat diterima dan dimengerti oleh penerima pesan dengan baik. Informasi yang diberikan kepada anak harus jelas dan sesuai dengan bahasa anak. Sehingga tidak menimbulkan berbagai penafsiran yang berlainan. Pesan yang ambigu dapat menimbulkan dampak yang tidak sederhana.<br />
4. Clarity<br />
Clarity berarti keterbukaan. Dalam berkomunikasi kita perlu mengembangkan sikap transparan sehingga dapat menimbulkan rasa percaya dari penerima pesan. Keterbukaan akan mencegah timbulnya sikap saling curiga yang akan menurunkan semangat dan antusiame anak kepada orang tuanya.<br />
5. Humble<br />
Humble adalah sikap rendah hati. Sikap ini merupakan unsur yang terkait dengan point pertama, yaitu respect. Untuk membangun rasa menghargai orang lain, biasanya didasari oleh sikap rendah hati yang kita miliki. Sikap rendah hati adalah sikap yang penuh melayani, sikap menghargai, mau mendengar dan menerima kritik, tidak sombong, tidak memandang rendah orang lain, berani mengakui kesalahan, rela memaafkan, lemah lembut dan penuh pengendalian diri.</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2012/01/bicara-seks-why-not/" target="_blank"><img src="http://www.anandyah.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2012/01/bicara-seks-why-not/" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anandyah.com/2012/01/bicara-seks-why-not/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>40 HARI BERSAMA IBU</title>
		<link>http://www.anandyah.com/2011/12/40-hari-bersama-ibu/</link>
		<comments>http://www.anandyah.com/2011/12/40-hari-bersama-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2011 00:43:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.anandyah.com/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[Tidak pernah kusadari, 22 Desember satu tahun yang silam adalah hari ibu yang  terakhir bersama ibu yang sangat aku cintai.Kuingat betapa sedihnya hatiku ketika aku membisikkan Selamat Hari Ibu ditelinganya, matanya yang indah  itu tak juga membuka untukku.Saat itu sekuntum mawar tidaklah berharga untuknya, karena keindahannya tidak lagi terlihat oleh matanya dan harumnya tidak lagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.anandyah.com/wp-content/uploads/2011/12/ibu.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-205" title="ibu" src="http://www.anandyah.com/wp-content/uploads/2011/12/ibu-271x300.jpg" alt="" width="271" height="300" /></a>Tidak pernah kusadari, 22 Desember satu tahun yang silam adalah hari ibu yang  terakhir bersama ibu yang sangat aku cintai.Kuingat betapa sedihnya hatiku ketika aku membisikkan Selamat Hari Ibu ditelinganya, matanya yang indah  itu tak juga membuka untukku.Saat itu sekuntum mawar tidaklah berharga untuknya, karena keindahannya tidak lagi terlihat oleh matanya dan harumnya tidak lagi tercium olehnya.Hanya lantunan ayat suci Al Qur’an yang kuhadiahkan untuknya, karena aku yakin pendengarannya masih bisa menangkap suaraku.</p>
<p>Mengingatnya, selalu membuat mataku bersimbah air mata.40 hari aku sangat akrab menyusuri lorong-lorong menuju ruang ICU, untuk menemani tidurnya yang panjang, membacakan Al Ma’tsurot, mengelus tubuhnya, kaki tangannya, membelai kepalanya,  dengan harapan ia membuka matanya.Betapa bahagianya hatiku ketika ia memberikan respon, menggerakkan sedikit kakinya, sedikit tangannya, mengeluarkan sedikit suaranya dan membuka sedikit matanya.Saat itu tidak pernah aku menyadari bahwa usianya didunia saat itu tinggal 10 hari lagi.</p>
<p>Kenangan tentang ibu, begitu melekat dikepalakuAku tahu betapa beratnya engkau melawan virus yang menyerangmuWajah tuamu yang terbaring diatas bantal rumah sakit menunjukkan kesakitan luar biasa yang engkau rasakanIbu, aku bisa merasakan yang engkau rasakan karena aku terlahir dari rahimmu.</p>
<p>Kenangan tentang ibu, begitu menyedihkanku tatkala diperpisahan terakhir itu tak sedikitpun keluar kata-kata, ucapan, pesan dari mulutnya kepadaku, tidak sedikitpun matanya membuka untukkuNamun, linangan air mata yang keluar dari sudut matanya adalah isyarat yang membahagianku dan salam perpisahan yang ingin disampaikannya.</p>
<p>Kenangan tentang ibu, adalah kenangan yang membahagiakan tatkala aku membuka kain jarik yang membungkusnya dari rumah sakit, kudapati seraut wajah yang tersenyum bahagia dan terlihat putih cantik memancarkan cahayaTidak sedikitpun kulihat kesedihan dan kesakitan di wajahnya seperti ketika diruang ICUIbu, aku bahagia melihat dirimu seperti bidadari didalam kain putih yang membalut tubuhmu Ibu, aku yakin engkau adalah bidadari surga yang dirindukan dan disambut dengan suka cita oleh makhluq surga.</p>
<p>Ibu, dihari ibu ini perkenankan aku mempersembahkan hadiah terindah ini<br />
<em> </em></p>
<p><em>Allahummafirlaha wa afiha wa’fuanha</em></p>
<p><em>Robbifirli waliwalidaya warhamhuma robbayani shogiro</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2011/12/40-hari-bersama-ibu/" target="_blank"><img src="http://www.anandyah.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2011/12/40-hari-bersama-ibu/" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anandyah.com/2011/12/40-hari-bersama-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CARA CERDAS MENYIKAPI ANAK PUBER</title>
		<link>http://www.anandyah.com/2011/02/cara-cerdas-menyikapi-anak-puber/</link>
		<comments>http://www.anandyah.com/2011/02/cara-cerdas-menyikapi-anak-puber/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Feb 2011 23:13:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial-Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.anandyah.com/?p=197</guid>
		<description><![CDATA[Perubahan zaman saat ini menjadi tantangan bersama orang tua masa kini.  Kekhawatiran  sebagian besar orang tua terhadap masa depan anak-anak adalah sebuah gejala yang dapat menimbulkan kecemasan yang bersifat latent. Betapa tidak, anak-anak yang di rumah terlihat baik, pendiam, penurut ternyata di luar rumah mereka merokok dengan teman-temannya, terlibat aksi kekerasan, pacaran, drug abuse dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://www.anandyah.com/wp-content/uploads/2011/02/PubertySearle.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-198" title="PubertySearle" src="http://www.anandyah.com/wp-content/uploads/2011/02/PubertySearle-300x249.jpg" alt="" width="300" height="249" /></a></strong>Perubahan zaman saat ini menjadi tantangan bersama orang tua masa kini.  Kekhawatiran  sebagian besar orang tua terhadap masa depan anak-anak adalah sebuah gejala yang dapat menimbulkan kecemasan yang bersifat latent. Betapa tidak, anak-anak yang di rumah terlihat baik, pendiam, penurut ternyata di luar rumah mereka merokok dengan teman-temannya, terlibat aksi kekerasan, pacaran, <em>drug abuse</em> dan sebagainya.</p>
<p>Tantangan ini semakin berat dirasakan orang tua khususnya menghadapi anak-anak yang memasuki usia pubertas.  Perubahan-perubahan yang salah satunya ditandai dengan berubahnya emosi menuntut kerja keras orang tua dalam menerapkan pola asuh dan pola didik.</p>
<p>Beberapa keluhan sering disampaikan orang tua adalah seputar masalah ketertarikan terhadap lawan jenis dan perilaku melawan otoritas orang tua.  Masalah ini menimbulkan kebingungan-kebingungan orang tua dalam hal penyikapan. Suatu saat ada seorang ibu tanpa sengaja membaca sms di HP putranya yang masih SMP,  alangkah terkejutnya ibu itu mengetahui isi HP tersebut berisi kata-kata mesra, penuh rayuan dan berbau sex  yang tidak layak dari sang pengirim (anak perempuan).</p>
<p>Pada kesempatan yang berbeda, ibu yang lain juga tanpa sengaja membaca sms di HP putrinya, sang pengirim (teman putranya) mengajak kencan di sebuah taman dan meminta putrinya menanggalkan jilbabnya.  Kedua ibu tersebut sangat panik, mengingat selama ini putra dan putrinya adalah anak-anak yang sejak kecil terbiasa dengan aturan-aturan islami. Ketakutan akan pergaulan bebas, membuat para ibu bertindak protective dengan memperketat semua hal yang memungkinkan terjadinya interaksi lawan jenis tersebut, seperti; pelarangan pemakaian HP, memutus akses internet, pengawalan ketat kemanapun anak beraktivitas dll.</p>
<p>Perlu disadari oleh para orang tua bahwa penyikapan-penyikapan yang tidak tepat dapat berpotensi menimbulkan konflik yang berkepanjangan dan justru menyebabkan anak-anak kelak mengalami kesulitan untuk keluar dari krisis pubertasnya. Efek dari krisis ini adalah terhambatnya proses pencarian identitas diri.</p>
<p><strong>MEMAHAMI PUBERTAS</strong></p>
<p>Pubertas merupakan masa transisi dan tahapan kritis yang dialami oleh anak-anak yang mengalami akil baligh.  Masa ini ditandai dengan adanya perubahan fisik, yang melahirkan konsekuensi perubahan hormonal dan mempengaruhi kondisi psikologis dan emosi anak.  Dengan demikian secara fisik dapat kita lihat mereka seperti orang dewasa namun secara psikologis belum, karena kemampuan intelektual dan emosi sosialnya masih berproses menuju maturitas (kematangan).</p>
<p>Ketidakmatangan emosinya berakibat sering berubah &#8211; ubahnya mood, terkadang terkesan memberontak, tidak taat pada aturan, ingin mencoba sesuatu yang menantang, ingin menunjukkan eksistensi dirinya dan lainnya. Dengan begitu, seringkali masa ini diliputi konflik terutama dengan orang tua.</p>
<p>Terdapat dua issue utama pada remaja yang terkait dengan masa ini yaitu masalah individu dan seksualitas. Umumnya para remaja mulai “menarik diri” dari banyak nilai-nilai (<em>values</em>) yang selama ini didapatkannya. Pada tahun-tahun “rawan” ini para remaja cenderung mengambil nilai-nilai dari peer groupnya ( kelompok ) dan budaya pop yang melingkar disekitar hidupnya. Ia mulai enggan untuk bergabung dengan acara-acara keluarga dan malah lebih sering bergabung dengan teman-temannya.</p>
<p>Dalam hal seksualitas, mereka sudah memiliki ketertarikan dengan lawan jenis. Berkaitan dengan ini seringkali mereka tertarik dengan informasi-informasi baik berupa film, music, artikel, cerpen, novel, yang bertema percintaan. Pada masa ini, biasanya mereka mengalami perubahan dalam hal penampilan, baik dalam berpakaian maupun dandanan.  Dengan keadaan semacam ini, banyak orang tua tidak siap dan menganggap anaknya bermasalah.</p>
<p>Pemahaman mengenai pubertas ini  merupakan kurikulum yang wajib diketahui orang tua.  Bahwasannya usia pubertas dengan segala fenomenanya merupakan hal yang fitroh, yang tidak mungkin dikebiri melainkan perlu diarahkan. Dengan bekalan-bekalan ini, permasalahan- permasalahan seputar remaja dapat disikapi dengan pendekatan yang lebih  kooperatif dan humanis.</p>
<p><strong>MENGUBAH POLA ASUH</strong></p>
<p>Masa remaja berbeda dengan masa kanak-kanak ditinjau dari berbagai segi.  Dan efek yang timbul dari perbedaan ini adalah berubahnya pola asuh dan pola didik yang seharusnya diterapkan, (walaupun kebanyakan kita menganggapnya sama). Cara komunikasi, penetapan aturan, penyelesaian masalah, penguatan motivasi pada masa pubertas memiliki kekhasan tersendiri dan orang tua harus memiliki kecakapan untuk melakukan hal tersebut.</p>
<p>Berikut tips menghadapi masa pubertas:</p>
<ol>
<li>Menerima bahwa pubertas merupakan proses alami.  Tidak usah panik, misalnya ketika anak perempuan kita yang kelas 4 SD mendapatkan haid pertama.  Atau anak laki-laki kita mimpi basah.  Penerimaan yang baik dari orang tua mengantarkan anak-anak pada kedewasaaan dengan sempurna.</li>
<li>Memberikan peran dan kepercayaan dalam keluarga. Ini yang memandu mereka pada pemahaman akan tanggung jawab sekaligus memberikan kepercayaan diri bahwa mereka dicintai.</li>
<li>Jangan terkejut ketika menemui anak kita bereksperimen dengan banyak hal baru, yang kadang aneh-aneh. Misalnya, berlama-lama berdandan, kamarnya ganti suasana seperti toko poster, mencoba aneka peran, dan lain-lain.</li>
<li>Menghargai pendapat mereka, antara lain dengan berusaha menjadi pendengar yang baik bagi mereka. Pada masa ini, logika mereka semakin matang.</li>
<li>Menjadi teman dekatnya, karena dengan demikian anak akan lebih mudah mengungkapkan isi hati dan problematikanya. Prinsipnya, lebih baik anak curhat ke orang tuanya, dari pada kepada teman, koran, internet dan yang lainnya.</li>
<li>Mengenali lingkungan barunya. Salah satunya adalah mengetahui siapa teman-teman dekat anak kita. Tapi, perlu kehati-hatian, jangan sampai mereka merasa diawasi seperti polisi memelototi penjahat.</li>
<li>Mengubah gaya kita, dari seorang penasehat yang cerewet menjadi pembimbing yang diidolakan. Tidak ada yang lebih dihargai oleh anak di usia puber selain sosok orang tua yang bijak tetapi tegas.</li>
<li>Memperbanyak berdoa.  Karena banyak kemungkinan terjadi di sisi kehidupan anak, yang sering tidak bisa kita prediksi.  Jalan terbaik adalah mengharap bimbingan dari Allah yang menciptakan anak kita.</li>
</ol>
<p><em>Wallahua’lam Bishawab</em></p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2011/02/cara-cerdas-menyikapi-anak-puber/" target="_blank"><img src="http://www.anandyah.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2011/02/cara-cerdas-menyikapi-anak-puber/" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anandyah.com/2011/02/cara-cerdas-menyikapi-anak-puber/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BIJAK DENGAN PSIKOTEST</title>
		<link>http://www.anandyah.com/2011/01/bijak-dengan-psikotest/</link>
		<comments>http://www.anandyah.com/2011/01/bijak-dengan-psikotest/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Jan 2011 01:44:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial-Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.anandyah.com/?p=192</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika di sebuah sekolah TK tempat anak saya bersekolah, diadakan psikotest (tes psikologi) untuk mengukur kecerdasan intelijen.  Banyak ibu-ibu yang tertarik untuk mengikutkan anaknya dengan dalih ingin mengetahui sejauh mana kecerdasan anaknya.  Walhasil, ibu-ibu tersebut “memaksa” anaknya untuk mengikuti tes yang dilakukan secara classical. Beberapa hari kemudian, hasil tes dibagikan ke seluruh wali murid.  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.anandyah.com/wp-content/uploads/2011/01/Its-Easy.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-193" title="Its Easy" src="http://www.anandyah.com/wp-content/uploads/2011/01/Its-Easy-300x249.jpg" alt="" width="300" height="249" /></a>Suatu ketika di sebuah sekolah TK tempat anak saya bersekolah, diadakan psikotest (tes psikologi) untuk mengukur kecerdasan intelijen.  Banyak ibu-ibu yang tertarik untuk mengikutkan anaknya dengan dalih ingin mengetahui sejauh mana kecerdasan anaknya.  Walhasil, ibu-ibu tersebut “memaksa” anaknya untuk mengikuti tes yang dilakukan secara classical.</p>
<p>Beberapa hari kemudian, hasil tes dibagikan ke seluruh wali murid.  Nampak beberapa ibu kecewa dengan hasil yang diperoleh anaknya setelah membandingkan dengan yang lain. Muncul berbagai penilaian, anaknya tidak pandai, bodoh, tesnya tidak valid dll.   Ada juga yang bangga bahkan terkesan sombong dengan angka IQ anaknya yang dibilang diatas rata-rata (superior).</p>
<p>Berawal dari sinilah pada beberapa kasus akhirnya timbul konflik antara ibu dan anak, karena kurangnya pemahaman terhadap hasil tes tersebut.  Sehingga, follow up yang sering terjadi adalah memberikan beban belajar yang berat kepada anak yang masih dalam masa bermain ini. Pelajaran tambahan (les) seringkali menjadi menu wajib sehari-hari untuk anak-anak tersebut.</p>
<p>Realita seperti ini umum terjadi dikalangan masyarakat kita, khususnya orang-orang yang awam terhadap segala jenis psikotest.  Hasil psikotest masih dianggap sebagai harga mati dalam menentukan beberapa aspek penilaian seseorang.  Bahkan dianggap sebagai momok, yang memiliki pengaruh besar dalam menentukan keberuntungan seseorang.  Sehingga, berburu soal-soal psikotest menjadi pemandangan yang biasa terjadi setiap kali seseorang mencari pekerjaan. Padahal, bukan demikian seharusnya kita menyikapinya, karena justru hal tersebut akan mengungkung pikiran dan persepsi kita terhadap masa depan.</p>
<p>MENGENAL PSIKOTEST</p>
<p>Psikotest dikenal juga sebagai tes psikologi merupakan tes untuk mengukur aspek individu secara psikis.  Tes psikologi dapat berbentuk tertulis, visual atau evaluasi secara verbal yang teradministrasi untuk mengukur fungsi kognitif dan emosional.</p>
<p>Adapun tujuan dilakukannya tes psikologi adalah untuk mengukur berbagai kemungkinan atas bermacam kemampuan secara mental dan apa-apa yang mendukungnya, termasuk prestasi dan kemampuan, kepribadian, intelegensi, atau bahkan fungsi neurologis.  Dengan kata lain tes psikologi ini berfungsi untuk mengungkap potensi-potensi yang ada dalam diri kita.  Dari hasil tes akan dapat diketahui kelebihan dan kekurangan yang dimiliki seseorang dan informasi seperti ini akan sangat membantu dalam mengembangkan potensi-potensi positif dan mengarahkan potensi-potensi yang kurang baik.</p>
<p>Nah, yang sering terjadi di masyarakat kita adalah melihat hasil akhir (angka) dari tes tersebut dan seringkali menghasilkan kesimpulan yang kadang tidak menguntungkan.  Satu contoh kasus; hasil test menunjukkan skor IQ seorang anak 90, yang berarti average (rata-rata). Sementara anak yang lain  memiliki skor IQ 120 yang berarti superior (diatas rata-rata). Apa yang disimpulkan oleh ibu-ibu mereka? Mereka menganggap anak yang memiliki skor IQ 120 lebih hebat, pandai  dari anak yang skor IQ nya 90.</p>
<p>Pemahaman demikian adalah salah.  Dalam tes IQ terdapat beberapa aspek penilaian yang diukur yaitu seperti pemahaman, kemampuan verbal, memori,  penalaran, perseptual, kemampuan  spasial dan pemahaman angka. Dan masing-masing memiliki skor.  Melihat hasil tes psikologi akan sangat baik apabila kita memperhatikan keseluruhan skor dari aspek-aspek penilaian tersebut sehingga interpretasi kita terhadap anak-anak kita lebih tepat.</p>
<p>Kita akan mengetahui kelebihan anak kita, misal pada kemampuan verbalnya, penalarannya sangat menonjol maupun kekurangannya.  Jadi skor yang kita terima sebagai angka kecerdasan bukanlah harga mati.  Dengan demikian treatment yang kita berikan kepada anak tidak akan menyimpang.  Anak tidak merasa terbebani tetapi justru kemampuannya akan lebih dapat ditampung dan diarahkan.</p>
<p>Hal ini berlaku pula dalam kita memahami hasil tes psikologi yang mengungkap dan mengukur aspek yang lain (kepribadian, prestasi, bakat, kemampuan).  Jangan kita terlalu fokus dan reaktif dengan suatu hasil yang terlihat negative, melainkan proaktif untuk mengembangkan sisi positif yang tersimpan dalam diri kita.  Pemahaman dan penyikapan yang benar terhadap hasil psikotest justru sangat membantu kita dalam mengenali diri kita secara menyeluruh.</p>
<p>TIDAK ADA YANG ABADI</p>
<p>Hidup dan kehidupan merupakan dua hal yang identik dengan perubahan. Dan waktu adalah penentu terjadinya perubahan tersebut. Manusia adalah makhluk yang mengalami perubahan baik secara fisik, akal maupun mental.  Pengaruh genitas, nutrisi, lingkungan berperan sangat besar dalam mengubah seseorang.</p>
<p>Kisah nyata  seorang anak bernama Jennifer lahir pada September 1984 dalam keadaan yang tidak lazim, tanpa ekspresi dan respon-responnya lambat.  Dokter memvonis Jennifer menderita down syndrome (keterbelakangan mental). Bahkan dalam usianya 2 bulan ia hampir mengalami kebutaan, tuli dan keterbelakangan mental yang parah.  Apa yang dilakukan ibunya? Ibunya melakukan terapi kepada anaknya agar otaknya memperoleh rangsangan dengan membacakan sebelas buku setiap hari kepada bayinya tersebut.  Muncullah sebuah keajaiban, pada usia 4 tahun dilakukan pengukuran IQ.  Subhanallah hasilnya menakjubkan, IQ nya 111.</p>
<p>Apa yang bisa kita simpulkan? IQ bukanlah angka yang tetap, ia akan berubah sebanding dengan berkembangnya fungsi otak manusia.  IQ berbeda dengan intelegensia, IQ adalah <strong>skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan</strong>. Dengan demikian, IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan.</p>
<p>Sementara Intelegensia adalah <strong>kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif</strong>. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.</p>
<p>Berbicara inteligensia tidak terlepas dari aktifitas otak, semakin maksimal fungsi-fungsi otak kita, kecerdasan juga semakin meningkat.  Oleh sebab itu memperhatikan asupan otak sangat berarti utk meningkatkan kemampuan otak, baik melalui nutrisi maupun rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif maupun emosional.</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2011/01/bijak-dengan-psikotest/" target="_blank"><img src="http://www.anandyah.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2011/01/bijak-dengan-psikotest/" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anandyah.com/2011/01/bijak-dengan-psikotest/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HARI IBU, MOMENTUM MENJADI IBU YANG BERMARTABAT</title>
		<link>http://www.anandyah.com/2010/12/hari-ibu-momentum-menjadi-ibu-yang-bermartabat/</link>
		<comments>http://www.anandyah.com/2010/12/hari-ibu-momentum-menjadi-ibu-yang-bermartabat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Dec 2010 07:43:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anandyah.firman-its.com/?p=185</guid>
		<description><![CDATA[Siang hari di sebuah sekolah Taman Kanak-Kanak, seperti biasa beberapa orang tua murid berkumpul di tempat penjemputan. Seperti biasa, ada yang sedang sibuk menawarkan barang dagangannya, ada yang bercanda ria, ada yang sedang membicarakan orang lain (gosip), berdiam diri sampai ada yang sedang curhat.  Kebetulan saat itu saya sedang berada pada kelompok ibu-ibu yang lagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://anandyah.firman-its.com/wp-content/uploads/2010/12/ummi-fatih-ihsan.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-186" title="ummi-fatih-ihsan" src="http://anandyah.firman-its.com/wp-content/uploads/2010/12/ummi-fatih-ihsan-218x300.jpg" alt="" width="218" height="300" /></a></p>
<p>Siang hari di sebuah sekolah Taman Kanak-Kanak, seperti biasa beberapa orang tua murid berkumpul di tempat penjemputan. Seperti biasa, ada yang sedang sibuk menawarkan barang dagangannya, ada yang bercanda ria, ada yang sedang membicarakan orang lain (gosip), berdiam diri sampai ada yang sedang curhat.  Kebetulan saat itu saya sedang berada pada kelompok ibu-ibu yang lagi curhat.  Dan topik besar saat itu adalah masalah stress yang melanda kaum ibu.</p>
<p>Betapa hal-hal yang sebenarnya bisa diselesaikan dalam rumah tangga ternyata harus menjadi konsumsi publik.  Seperti masalah yang berkaitan dengan pekerjaan rumah tangga yang overload, kesenjangan antara suami istri, kurangnya kepercayaan diri, pendapatan suami yang pas-pasan, keharmonisan pasangan, dan anak-anak yang bermasalah. Permasalahan-permasalahan yang tidak pernah tuntas dalam rumah tangga ini menyebabkan perasaan-perasaan tertekan, penyesalan, unhappy yang dialami seorang ibu dan pada akhirnya menimbulkan masalah baru.</p>
<p>Akumulasi permasalahan diatas sesungguhnya  dapat mengancam kesehatan psikis seorang ibu.  Efek  berikutnya yang ditimbulkan dari hal tersebut tentunya akan mengganggu keberlangsungan fungsi keluarga.  Padahal seperti kita ketahui, fungsi seorang ibu dalam keluarga sangat vital.</p>
<p><strong>MEMBANGUN AWARENESS</strong></p>
<p>Seorang wanita adalah makhluk yang spesifik karena keistimewaan-keistimewaan yang dimilikinya. Suatu waktu bisa berperan sebagai seorang istri, seorang ibu,  bagian dari masyarakat sampai seorang hamba yang mengabdi kepada sang Khalik. Dengan perannya yang multiple fungsi tersebut seorang wanita dituntut memiliki kesiapan yang ekstra, sehingga hak-hak setiap individu dalam keluarga dapat terpenuhi dengan baik.  Memang sekilas tidak ada yang ringan alias melelahkan namun dengan kesadaran dan optimalisasi peran-perannya tersebut seorang wanita sesungguhnya akan mendapatkan sebuah kemuliaan.</p>
<p>Kesadaran dan pemahaman  akan peran sebagai seorang ibu wajib kita miliki. Karena akan melahirkan energi besar yang akan mendorong kita untuk melakukan fungsi pengasuhan dan pendidikan terhadap anak sesuai dengan fitroh anak.  Sehingga anak-anak nakal, rewel, mogok sekolah tidak disikapi secara apatis (stress) tetapi justru menjadi pendorong seorang ibu untuk mengevaluasi dan menata ulang pola asuh dan pola didiknya menjadi lebih baik.  Sebaliknya ketidakmampuan seorang ibu dalam menjalankan fungsinya akan melahirkan anak-anak yang bermasalah secara sosial.</p>
<p>Optimalisasi fungsi peran ibu secara integral dapat menumbuhkan potensi-potensi anak berkembang sesuai dengan kapasitasnya.  Anak-anak pun sehat jiwanya, mereka memiliki semangat untuk meraih masa depan yang lebih baik dan menghasilkan prestasi-prestasi yang mengagumkan. Oleh sebab itu penting bagi seorang ibu untuk membangun kembali sebuah pola pikir positif akan tugas mulianya ini agar memiliki kekuatan dan kemampuan untuk menggembleng anak-anak menjadi generasi-generasi yang berkualitas, potensial dan bermanfaat untuk ummat.</p>
<p>Begitu halnya dengan kesadaran dan pemahaman kita sebagai seorang istri perlu selalu ditingkatkan sehingga kehidupan rumah tangga kita jauh dari percekcokan, pertengkaran, perselisihan, kecurigaan dan fitnah perceraian.  Bermula dari diri sendiri, kita menata kembali peran kita sebagai istri untuk menjaga keharmonisan berumahtangga.  Memang tidak dapat dipungkiri, dengan beratnya  berbagai aktivitas yang dilakukan seorang ibu (mengurus anak, melakukan pekerjaan rumah tangga, bekerja diluar dll),cukup menguras tenaga, waktu maupun pikiran sehingga tak jarang  fungsi sebagai istri terabaikan.  Akan tetapi dengan awareness, kita punya kekuatan untuk melahirkan semangat baru.</p>
<p>Dalam sebuah hadist disebutkan seorang istri yang melayani suaminya dikatakan pahalanya seperti berjihad melawan 70 orang kafir dan ketika ia meninggal pada saat melayani suaminya maka dia syahid dan langsung masuk surga tanpa hisab.  Subhanallah….</p>
<p>Kesadaran akan peran kita dalam berbagai dimensi mengharuskan kita memiliki kecakapan dalam mengatur beragam aktivitas sehingga tidak terjadi benturan satu dengan lainnya.  Sehingga setiap individu didalam keluarga merasa puas, bahagia tidak ada yang merasa dirugikan karena terpenuhi hak-haknya.</p>
<p><strong>MENJADI IBU CERDAS</strong></p>
<p>Pekerjaan menjadi ibu tidak lebih mudah daripada seorang manajer, accounting, dokter dll.  Bahkan seorang arsitek wanita pun mengatakan membangun fondasi anak sholih lebih rumit daripada membangun fondasi beton gedung bertingkat.  Artinya apa, menjadi seorang ibu juga tidak luput dari aktifitas belajar.  Keberhasilan seorang ibu mendidik anak-anaknya menjadi pribadi-pribadi yang sukses sesungguhnya karena jerih payah dan usahanya untuk belajar memahami dinamika anak-anaknya serta mengarahkan potensi-potensi kemanusiaannya menjadi sumber daya-sumber daya yang berdayaguna.</p>
<p>So, memperbanyak tsaqofah (pengetahuan) hukumnya wajib tidak hanya bagi yang bersekolah tetapi bagi seorang ibu adalah sebuah kebutuhan utama.  Dengan pengetahuan, seorang ibu lebih memiliki wawasan yang luas, sehingga cara berpikirnya lebih terbuka, tidak saklek dan otoriter.  Dan yang terpenting mau mengevaluasi dan melakukan perubahan terhadap kekurangan-kekurangannya dan meningkatkan kemampuannya dalam mengarahkan dan mendidik anak-anak.</p>
<p>Dengan aktifitas belajar (membaca, browsing internet, kursus ketrampilan, berorganisasi), seorang ibu juga akan memiliki kemampuan untuk mengatasi kejenuhan-kejenuhan dalam pekerjaan rumah tangga maupun kesenjangan pengetahuan/pola pikir dengan suami.  Sehingga perasaan-perasaan tertekan, tidak percaya diri, stress tidak menghantui dan menonjol, berubah menjadi perasaan bahagia.  Dengan demikian masalah-masalah klasik yang mengganjal dapat diminimalisir dan diselesaikan dalam rumah tangga masing-masing.</p>
<p>Dan satu hal yang sangat mendasar untuk menjadi ibu yang cerdas adalah baiknya hubungan antara ibu sebagai hamba dan Allah sebagai Raja yang memiliki kekuasaan semesta alam (quwwatusilahbillah).  Kekuatan hubungan dengan Allah inilah yang melahirkan energi yang sesungguhnya pada seorang ibu untuk bekerja dengan penuh keikhlasan.  Tanpa keikhlasan dan keistiqomahan mustahil peran seorang wanita sebagai ibu, istri, bagian dari masyarakat dapat dijalankan dengan baik dan berkembang secara optimal.  Sadarilah, dibalik anak-anak hebat terdapat ibu-ibu yang  cerdas,  dan dibelakang para suami yang sukses terdapat istri yang bermartabat.</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2010/12/hari-ibu-momentum-menjadi-ibu-yang-bermartabat/" target="_blank"><img src="http://www.anandyah.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2010/12/hari-ibu-momentum-menjadi-ibu-yang-bermartabat/" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anandyah.com/2010/12/hari-ibu-momentum-menjadi-ibu-yang-bermartabat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>LIFE SKILL , MODAL SUKSES MASA DEPAN</title>
		<link>http://www.anandyah.com/2010/06/life-skill-modal-sukses-masa-depan/</link>
		<comments>http://www.anandyah.com/2010/06/life-skill-modal-sukses-masa-depan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jun 2010 22:28:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial-Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anandyah.firman-its.com/?p=180</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika dalam sebuah arisan di perumahan tempat tinggal saya, seperti biasa sebelum acaranya dibuka ibu-ibu asyik mengobrol. Ada yang membicarakan masalah fashion, harga kebutuhan pokok, kuliner sampai masalah pembantu, suami dan anak-anak. Kebetulan saat itu saya sedang “ngomongin” perihal anak dengan seorang ibu yang cukup senior di perumahan. Beliau mengeluhkan putranya (sudah duduk dibangku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://anandyah.firman-its.com/wp-content/uploads/2010/06/LIFE-SKILL.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-181" title="LIFE SKILL" src="http://anandyah.firman-its.com/wp-content/uploads/2010/06/LIFE-SKILL.jpg" alt="" width="112" height="150" /></a>Suatu ketika dalam sebuah arisan di perumahan tempat tinggal saya, seperti biasa sebelum acaranya dibuka ibu-ibu asyik mengobrol. Ada yang membicarakan masalah fashion, harga kebutuhan pokok, kuliner sampai masalah pembantu, suami dan anak-anak.</p>
<p>Kebetulan saat itu saya sedang “ngomongin” perihal anak dengan seorang ibu yang cukup senior di perumahan. Beliau mengeluhkan putranya (sudah duduk dibangku kuliah) tetapi masih harus di “dikte” terus setiap hari dalam urusan-urusan kemandirian dan tanggung jawab. Kamar berantakan, pakaian, buku, kertas-kertas, handuk, sepatu campur aduk di lantai maupun diatas tempat tidur.  Bangun kesiangan sudah menjadi kebiasaan sehari-hari, kuliahnya molor dan pulang kuliah tujuannya tidak ke rumah apabila tidak dimonitor.  Tidak peduli dengan urusan rumah, selalu menuntut haknya.</p>
<p>Pada saat itu yang terpikir dibenak saya, begitu panjangnya perjalanan menjadi orang tua dan  begitu besarnya tantangan yang kita hadapi dalam mendidik anak-anak.  Berbeda dengan anak-anak yang masih kecil, masih lebih mudah diatur, anak-anak yang beranjak remaja ternyata jauh lebih kompleks permasalahannya sehingga perlu cara cerdas untuk menghadapinya. Dan Subhanallah, dalam perjalanan tersebut Allah tak luput memberikan ujian-ujian baik berupa kesulitan maupun kemudahan.</p>
<p>Kasus tersebut adalah satu dari sekian banyak realitas yang terjadi pada remaja kita, dan sejenak kita dapat mengambil kesimpulan bahwasannya sekedar pendidikan formal di sekolah yang hanya menekankan pada penguasaan mata pelajaran (akademisi) tidak akan sempurna tanpa pendidikan informal yang menekankan pada ketrampilan hidup sehari-hari di rumah. Pendidikan formal maupun informal hendaknya berorientasi pada pengajaran seluruh aspek potensi (akal, fisik, kalbu) setiap manusia agar potensi tersebut dapat memberikan manfaat bagi diri individu maupun orang lain.</p>
<p><strong>MENGAJARKAN LIFE SKILL<br />
</strong>Life skill atau keterampilan hidup merupakan keterampilan yang dibutuhkan setiap individu untuk dapat survive dalam hidup dan kehidupan. Dengan keterampilan ini kita memiliki kemampuan untuk menemukan masalah, memecahkan masalah, membuat keputusan terhadap suatu pilihan dan menghindari situasi yang mungkin dapat menjatuhkan  dan memperkuat pertahanan dan ketahanan mental menghadapi masalah hidup.</p>
<p>Kita akan menjadi orang tua efektif apabila pengajaran life skill ini dimulai kepada anak-anak sejak usia dini. Layaknya seperti petani menanam padi, benih padi akan dapat dituai (dipetik) ketika sudah menjadi padi yang menguning. Kita ketahui bersama menguningnya padi membutuhkan waktu yang tidak singkat dan proses yang tepat sehingga ketika dikonsumsi manusia menjadi nasi yang enak. Sebaliknya proses yang tidak tepat  akan menyebabkan kegagalan proses penanaman sehingga kualitas berasnya juga buruk.</p>
<p>Ketrampilan hidup apa yang harus kita ajarkan? Ada  tiga point yang termasuk didalamnya:<br />
1.    Self improvement skills yaitu ketrampilan yang membangun diri anak (self esteem, managing emotion, decision making )<br />
2.    Relational skills yaitu ketrampilan yang membangun hubungan antara anak dan lingkungannya (building positive relationships, handling conflict, assertion)<br />
3.    Lifelong skills yaitu keterampilan yang membangun hidup dan masa depan anak yang bertujuan dan bermakna (goal setting, identifying intelligence/talents, the art to life meaningfully)</p>
<p>Ketrampilan hidup bukan pelajaran teori yang harus dihafalkan tetapi lebih kepada praktek melalui latihan dan pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Mengajarkannya pun disesuaikan dengan usia dan kemampuan setiap anak. Anak usia empat tahun sudah dapat kita ajarkan untuk  mandi sendiri, menggosok giginya, mengembalikan handuk di tempatnya sehingga mereka tidak akan mengalami kesulitan  dan tergantung pada bantuan orang tua atau pembantunya.</p>
<p>Mereka berlatih menjadi mandiri dan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.  Begitu pula dengan ketrampilan mengambil keputusan dapat kita ajarkan pada saat ia memilih pakaian, mainan, makanan dll. Dalam kegiatan bermain, kita juga dapat mengasah ketrampilan berkomunikasinya.</p>
<p>Jadi, sesungguhnya dalam aktivitas sehari-hari, banyak hal yang dapat kita jadikan sarana untuk mengajarkan ketrampilan hidup pada anak kita.  Hal ini tidak hanya berlaku untuk anak kita yang masih balita saja, sampai dewasa pun anak kita masih tetap membutuhkan pengajaran life skill sesuai dengan tingkatannya. Ketrampilan hidup yang mereka peroleh pada tahap-tahap perkembangan sebelumnya merupakan fondasi   untuk tahap perkembangan selanjutnya.</p>
<p><strong>METODE PENGAJARAN<br />
</strong>Pelajaran apapun akan sukses dengan rumus atau metode pengajaran yang tepat. Modelling atau teladan merupakan cara yang sangat penting diperhatikan orang tua , karena anak-anak belajar dari apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan. Perkataan dan perbuatan orang tua menjadi pelajaran untuk anak apa dan bagaimanana orang tuanya hidup.</p>
<p>Reinforcement atau dorongan dibutuhkan setiap saat untuk menguatkan dan mempertahankan kebiasaan baik yang sudah terbentuk dan mendorong anak untuk bertanggung jawab terhadap perilakunya.</p>
<p>Consistency, konsisten dengan apa yang kita ajarkan  akan mengurangi kebingungan anak dan menguatkan rasa amannya terhadap peraturan yang telah disepakati.<br />
Practice, latihan kontinyu adalah upaya agar anak kita menjadi terampil. Latihan efektif, dilakukan dalam suasana yang beresiko rendah (dirumah/keluarga) sehingga anak-anak memiliki kesiapan ketika berada pada situasi diluar rumah (sekolah). Dengan latihan anak akan memiliki kepercayaan diri dimanapun dengan siapapun mereka berinteraksi.</p>
<p>Make rooms for mistake. Dalam proses belajar pasti timbul adanya kesalahan. Kita pastikan anak kita merasa aman dengan kesalahan yang dilakukan dan kita bantu untuk mengetahui kesalahannya dan mendorongnya untuk memperbaikinya.<br />
Patience, kesabaran adalah kunci yang utama untuk keberhasilan semua proses belajar.</p>
<p>Belajar Life skill berarti learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together. Kesuksesan hidup adalah buah dari keseriusan kita mengasah ketrampilan hidup.</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2010/06/life-skill-modal-sukses-masa-depan/" target="_blank"><img src="http://www.anandyah.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.anandyah.com/2010/06/life-skill-modal-sukses-masa-depan/" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.anandyah.com/2010/06/life-skill-modal-sukses-masa-depan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

